Selektif dalam Mengambil Ilmu dan Memilih Guru
Selektif dalam Mengambil Ilmu dan Memilih Guru adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Syarhus Sunnah karya Imam Al-Barbahari Rahimahullah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A Hafidzahullah pada Rabu, 26 Safar 1448 H / 12 Agustus 2026 M.
Kajian Islam Tentang Selektif dalam Mengambil Ilmu dan Memilih Guru
Para penguasa pada masa tersebut memaksa setiap orang, termasuk para ulama, untuk menyatakan apakah mereka menerima atau menolak pendapat itu. Peristiwa tersebut disebut al-mihnah, yaitu ujian berat bagi kaum muslimin, dan jelas merupakan perbuatan bid’ah.
Sebagian ulama lain menjelaskan bahwa al-mihnah berarti menguji seseorang dengan pertanyaan-pertanyaan secara mendetail, padahal ia seorang muslim. Sikap yang semestinya ialah berprasangka baik kepada seorang muslim selama ia tidak menampakkan bid’ah, kesesatan, atau penyimpangan. Pada asalnya, setiap muslim dapat dipercaya.
Memeriksa Sumber Ilmu
Imam Al-Barbahari rahimahullah juga menjelaskan bahwa sejak zamannya hingga sekarang, seorang muslim harus selektif dalam memilih guru dan mengambil ilmu.
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama.”
Hal ini sejalan dengan perkataan ulama salaf, Muhammad bin Sirin rahimahullah, bahwa ilmu agama merupakan agama seseorang. Sebagian ulama menyebutkan ungkapan lain yang bermakna bahwa ilmu adalah darah dan daging seseorang. Karena itu, sumber agama harus diperhatikan dengan saksama.
Seorang muslim harus benar-benar selektif dalam memilih guru dan mengambil ilmu. Sejak zaman dahulu hingga sekarang, banyak orang berbicara tanpa ilmu. Sebagian bahkan mengenakan pakaian ulama, tetapi berbicara tanpa ilmu.
Karena itu, seseorang harus selektif ketika mempelajari akidah, fikih, hadits, tafsir, dan ilmu agama lainnya. Ia wajib memeriksa keadaan gurunya sebelum duduk di majelisnya.
Pada masa dahulu, orang-orang yang mempelajari hadits menyeleksi perawi sebelum mengambil ilmu darinya. Mereka bertanya secara mendalam tentang shalat, keadaan, akhlak, kebiasaan, dan penampilan perawi tersebut.
Tingkat pemeriksaan mereka sangat terperinci, sampai-sampai dikatakan kepada seseorang, “Apakah engkau hendak menikahkan dia dengan keluargamu?” Pertanyaan itu bukan karena hendak menikahkan orang tersebut, melainkan karena ingin belajar darinya.
Demikian pula yang seharusnya dilakukan seorang muslim ketika hendak mengambil ilmu dan memilih majelis. Ia perlu bertanya kepada orang-orang tepercaya tentang guru, sumber ilmu, kanal dakwah, atau buku tertentu.
Pertanyaan itu disampaikan kepada ahli ilmu, ulama, ustadz tepercaya, atau orang yang diyakini ketakwaan dan kewara’annya. Perlu pula diperhatikan kehati-hatiannya dalam menjaga agama.
Setelah merasa yakin terhadap seorang guru, seseorang hendaknya belajar dengan serius. Ia perlu rajin bertanya, menghadiri majelis, dan memperhatikan penjelasan guru tersebut.
Saat ini banyak penyampai ilmu agama, mubaligh, dan dai yang mengaku sebagai ahli ilmu atau ulama. Karena itu, seorang muslim harus pandai memilih sumber ilmu dan menentukan dari siapa ia mengambil agamanya.
Menjauhi Ahli Kalam dan Perdebatan
Beliau rahimahullah mengatakan, “Jangan mengambil hadits kecuali dari orang yang engkau terima persaksiannya.” Persaksian orang fasik, banyak berdusta, dan tidak jujur tidak dapat diterima. Prinsip ini berlaku pula dalam ilmu hadits, aqidah, fikih, dan tafsir.
Apabila seseorang benar-benar diyakini sebagai Ahlus Sunah, pengikut sunnah, memiliki aqidah yang benar, berilmu, dan jujur, ambillah ilmu darinya. Sebaliknya, jika setelah diteliti dan diseleksi ternyata ia bukan Ahlus Sunah, tidak berilmu, serta tidak belajar dari para ulama, tinggalkan dan jangan belajar darinya.
Beliau mengingatkan seluruh kaum muslimin agar berhati-hati dalam memilih guru. Seseorang berhati-hati ketika memilih dokter, tempat makan, dan tempat rekreasi. Karena itu, kehati-hatian dalam memilih guru agama lebih layak diperhatikan, sebab ilmu agama menjadi penentu keselamatan di dunia dan akhirat.
Nasihat ini disampaikan agar kaum muslimin menjauhi orang-orang yang menyeru kepada bid’ah dan mengajak menyimpang dari jalan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta para sahabatnya. Setiap orang hendaknya berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan bersungguh-sungguh agar tetap berada di atas jalan sunah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Beliau melanjutkan, apabila seseorang ingin istiqamah di atas kebenaran, sunnah, petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan hidayah yang ditempuh Ahlus Sunah sebelum dirinya, hendaknya ia menjauhi ahli kalam serta orang-orang yang sibuk berdebat dan menggunakan akal dalam memahami agama.
Yang dimaksud ialah orang-orang yang mendahulukan dalil akal dan kitab-kitab filsafat Yunani, sementara mereka tidak memahami Al-Qur’an, sunnah, dan aqidah Ahlus Sunah wal Jamaah. Mereka meninggalkan Al-Qur’an dan sunnah serta menganggap kedua sumber tersebut tidak menghasilkan keyakinan, melainkan keraguan. Padahal, keraguan justru muncul dari pemikiran mereka.
Mereka adalah orang-orang yang paling ragu terhadap agama dan paling banyak berselisih. Adapun Ahlus Sunah wal Jamaah yang mengambil aqidah, sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla, dan tauhid dari Al-Qur’an serta hadits, mereka adalah orang-orang yang paling yakin terhadap agama. Mereka juga paling bersatu sejak zaman sahabat, tabiin, tabiut tabiin, hingga hari ini, karena dalil yang mereka gunakan ialah Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih.
Beliau memperingatkan agar seseorang tidak membiarkan dirinya mendengarkan ucapan mereka, membaca kitab-kitab mereka, atau berdebat dengan mereka. Meskipun tidak menerimanya, semua itu dapat menimbulkan keraguan dalam hati.
Ada pengecualian, yaitu bagi orang yang ahli dalam bidang tersebut, mampu berdialog dengan mereka, memahami kebatilan yang mereka bawa, dan mengetahui cara membantahnya. Allah Ta’ala berfirman tentang berdialog dengan ahli kitab dengan cara yang terbaik.
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, kecuali dengan cara yang paling baik.” (QS. Al-Ankabut [29]: 46)
Dialog bukan sesuatu yang terlarang secara mutlak. Dialog hanya layak dilakukan oleh orang yang memiliki kedalaman ilmu, pemahaman kuat terhadap syubhat, serta kemampuan untuk membantahnya. Hal ini tidak terbuka bagi semua orang.
Orang yang lemah dalam hujah dan kurang ilmu tidak seharusnya berdebat ke sana kemari. Perdebatan semacam itu dapat menampakkan kelemahan sunah yang dibawanya dan justru melemahkan agama.
Kebanyakan kaum muslimin bukan ahli dalam menghadapi orang-orang yang memiliki syubhat kuat. Karena itu, pada asalnya seseorang tidak perlu melayani mereka dalam perdebatan. Masuknya syubhat ke dalam hati dapat menyebabkan kebinasaan.
Penyimpangan, kezindikan, menjadi ahli bid’ah, dan mengikuti hawa nafsu yang sesat dapat muncul karena terlalu banyak berdebat, mendengarkan ucapan ahli kalam, membaca kitab-kitab mereka, serta mendahulukan akal daripada wahyu.
Semua itu merupakan pintu yang dapat menyebabkan seseorang masuk ke dalam bid’ah, keragu-raguan, dan kezindikan, yaitu meninggalkan agama atau membuat bid’ah-bid’ah besar.
Para salaf sejak dahulu bersikap tegas dalam perkara ini. Mereka melarang kaum muslimin membaca kitab-kitab ahli kalam, berdialog, dan berdebat dengan mereka karena hal itu dapat melahirkan keragu-raguan dalam agama.
Beliau kemudian melanjutkan nasihatnya dengan mengingatkan agar seseorang menjaga dirinya.
Mengikuti Sunnah dan Jalan Salaf
Hendaklah hanya mengikuti orang-orang yang menyampaikan sunah dan atsar, yaitu riwayat-riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan para tabiin. Mengikuti mereka berarti mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan para tabiin.
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para salaf tidak meninggalkan umat dalam keragu-raguan. Mereka telah menjelaskan agama secara terperinci: tentang Allah ‘Azza wa Jalla, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, hal-hal yang disucikan dari-Nya, rububiyah Allah ‘Azza wa Jalla, para malaikat, para nabi, kitab-kitab, takdir, dan hari akhir. Mereka menjadikan Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai sumber utama.
Cukuplah mengambil ilmu dari para salaf dan meninggalkan sumber-sumber lainnya. Jangan mengabaikan riwayat-riwayat dan atsar. Apabila terdapat perkara yang tidak jelas atau meragukan, jangan memaksakan diri untuk memahaminya sendiri. Tanyakan kepada para ulama dan jangan menjadikan akal sebagai satu-satunya dasar untuk memahami agama.
Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat muhkamat yang jelas maknanya. Namun, terdapat pula perkara-perkara yang memerlukan penjelasan para ulama dan ahli tafsir. Misalnya, terdapat ayat yang menyebutkan masa tunggu perempuan yang ditinggal wafat suaminya selama satu tahun, sedangkan ayat lain menyebutkan empat bulan sepuluh hari. Orang yang tidak memahami tafsir dapat menganggap kedua ayat tersebut bertentangan.
وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِّأَزْوَاجِهِم مَّتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ
“Orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan istri-istri hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya, yaitu diberi nafkah hingga satu tahun tanpa mengeluarkannya dari rumah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 240)
وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا
“Orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan istri-istri hendaklah para istri itu menangguhkan dirinya selama empat bulan sepuluh hari.” (QS. Al-Baqarah [2]: 234)
Perkara tersebut dikembalikan kepada tafsir para ulama dari kalangan sahabat dan tabiin. Mereka menjelaskan bahwa ketentuan satu tahun telah dihapuskan.
Demikian pula, ayat-ayat tentang hidayah harus dikembalikan kepada penjelasan ulama. Hidayah berupa penjelasan dan petunjuk dapat diberikan oleh Nabi, sedangkan hidayah taufik dan ilham merupakan milik Allah ‘Azza wa Jalla.
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash [28]: 56)
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura [42]: 52)
Nabi Ibrahim tidak mampu memberikan hidayah taufik dan ilham kepada ayahnya. Demikian pula, Nabi Nuh tidak mampu memberikan hidayah tersebut kepada putranya, dan Nabi Luth tidak mampu memberikannya kepada istrinya.
Sebagian orang menggunakan ayat dalam Surah Al-Baqarah ayat 62 tentang orang-orang yang beriman, Yahudi, Nasrani, dan Sabiin untuk membuat syubhat bahwa semua agama benar. Padahal, terdapat ayat-ayat lain yang menjelaskan kekafiran orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari tiga. Sebagian ayat dapat dipahami berdasarkan makna lahiriahnya, sedangkan sebagian lainnya memerlukan penjelasan para ulama yang mendalam ilmunya.
لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ
“Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah adalah salah satu dari tiga.’” (QS. Al-Ma’idah [5]: 73)
Jangan berusaha memahami seluruh ayat secara sendiri sehingga timbul keraguan terhadap kebenaran Al-Qur’an dan anggapan bahwa satu ayat bertentangan dengan ayat lainnya. Hal ini sangat berbahaya bagi agama. Banyak orang bahkan murtad setelah sebelumnya belajar agama.
Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian tentang “Selektif dalam Mengambil Ilmu dan Memilih Guru” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56470-selektif-dalam-mengambil-ilmu-dan-memilih-guru/